Feeds:
Pos
Komentar

AIRBORNE DISEASE

AIRBORNE DISEASE

Penyakit yang disebabkan oleh mikroorganisme yang ada di udara sering diklasifikasikan sebagai penyakit yang menular lewat udara (airborne disease). Pada umunya penyakit yang ditimbulkan oleh airborne disease sangat berpotensi menimbulkan wabah karena dapat menular dengan cepat, dan penularannya melalui saluran pernafasan. Contoh penyakit airborne disease yaitu Penyakit Pneumonia.

Pneumonia

Definisi

Pneumonia adalah suatu penyakit infeksi atau peradangan pada organ paru-paru yang disebabkan oleh bakteri, virus, jamur ataupun parasit di mana pulmonary alveolus (alveoli) yang bertanggung jawab menyerap oksigen dari atmosfer menjadi “inflame” dan terisi oleh cairan. Pneumonia dapat juga disebabkan oleh iritasi kimia atau fisik dari paru-paru atau sebagai akibat dari penyakit lainnya, seperti kanker paru-paru atau terlalu banyak minum alkohol. Namun penyebab yang paling sering ialah serangan bakteria streptococcus pneumoniae, atau pneumokokus.

 

Terjadinya Penyakit Pneumonia

Cara penularan virus atau bakteri Pneumonia sampai saat ini belum diketahui pasti, namun ada beberapa hal yang memungkinkan seseorang beresiko tinggi terserang penyakit Pneumonia. Hal ini diantaranya adalah :

  1. Orang yang memiliki daya tahan tubuh lemah, seperti penderita HIV/AIDS dan para penderita penyakit kronik seperti sakit jantung, diabetes mellitus. Begitupula bagi mereka yang pernah/rutin menjalani kemoterapy (chemotherapy) dan meminum obat golongan Immunosupressant dalam waktu lama, dimana mereka pada umumnya memiliki daya tahan tubuh (Immun) yang lemah.
  2. Perokok dan peminum alkohol. Perokok berat dapat mengalami irritasi pada saluran pernafasan (bronchial) yang akhirnya menimbulkan secresi muccus (riak/dahak), Apabila riak/dahak mengandung bakteri maka dapat menyebabkan Pneumonia. Alkohol dapat berdampak buruk terhadap sel-sel darah putih, hal ini menyebabkan lemahnya daya tahan tubuh dalam melawan suatu infeksi.
  3. Pasien yang berada di ruang perawatan intensive (ICU/ICCU). Pasien yang dilakukan tindakan ventilator (alat bantu nafas) ‘endotracheal tube’ sangat beresiko terkena Pneumonia. Disaat mereka batuk akan mengeluarkan tekanan balik isi lambung (perut) ke arah kerongkongan, bila hal itu mengandung bakteri dan berpindah ke rongga nafas (ventilator) maka potensial tinggi terkena Pneumonia.
  4. Menghirup udara tercemar polusi zat kemikal. Resiko tinggi dihadapi oleh para petani apabila mereka menyemprotkan tanaman dengan zat kemikal (chemical) tanpa memakai masker adalah terjadi irritasi dan menimbulkan peradangan pada paru yang akibatnya mudah menderita penyakit Pneumonia dengan masuknya bakteri atau virus.
  5. Pasien yang lama berbaring. Pasien yang mengalami operasi besar sehingga menyebabkannya bermasalah dalah hal mobilisasi merupakan salah satu resiko tinggi terkena penyakit Pneumonia, dimana dengan tidur berbaring statis memungkinkan riak/muccus berkumpul dirongga paru dan menjadi media berkembangnya bakteri.

Tanda dan Gejala Penyakit Pneumonia

Gejala yang berhubungan dengan pneumonia termasuk batuk, sakit dada, demam, dan kesulitan bernafas. Sedangkan tanda-tanda menderita Pneumonia dapat diketahui setelah menjalani pemeriksaan X-ray (Rongent) dan pemeriksaan sputum.

Epidemiologi

Frekuensi penyakit pneumonia

Pneumonia adalah merupakan infeksi saluran nafas bagian bawah yang merupakan masalah kesehatan dunia karena angka kematiannya tinggi di perkirakan terjadi lebih 2 juta kematian Balita karena pneumonia di bandingkan dengan penyakit lain seperti AIDS, malaria dan campak. Di Indonesia berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar ( RISKESDAS ) tahun 2007 menunjukkan angka kesakitan pneumonia pada bayi 2,2%, Balita 3%, angka kematian pneumonia pada bayi 29,8% dan Balita 15,5%.

Distribusi/ penyebaran penyakit pneumonia

Pneumonia merupakan penyakit yang endemisitasnya berkelanjutan,khususnya menyerang bayi dan usia lanjut serta orang-orang yang menderita penyakit tertentu; lebih sering menyerang kelompok dengan tingkat sosial ekonomi rendah di negara berkembang. Penyakit ini muncul pada semua iklim dan musim, tapi insidensi paling tinggi pada musim dingin dan musim semi. Biasanya sporadis di AS, bisa terjadi KLB pada penduduk yang padat dan pada urbanisasi yang cepat. KLB yang berulang pernah terjadi pada kelompok pekerja tambang di Afrika Selatan; insidensi yang tinggi ditemukan pada daerah geografis tertentu (misalnya Papua Nugini) dan di banyak negara berkembang; menyerang anak-anak dan merupakan penyebab kematian terbesar pada anak. Peningkatan insidensi biasanya mengikuti KLB influenza. Tingkat resistensi yang tinggi terhadap penisilin dan kadang-kadang terhadap generasi ketiga cephalosporin semakin meningkat di seluruh dunia.

Faktor determinan/ faktor yang mempengaruhi

Kejadian pneumonia khususnya pada bayi dan balita selain disebabkan oleh bakteri dan virus juga dipengaruhi oleh beberapa faktor yang dapat dibedakan menjadi dua yaitu : faktor intrinsik dan ekstrinsik. Faktor intrinsik meliputi umur status gizi, status imunisasi, jenis kelamin, ASI eksklusif, defisiensi vitamin A dan berat badan lahir rendah (BBLR), sedangkan faktor ekstrinsik terdiri dari kondisi rumah, kepadatan hunian, kelembaban, pencahayaan ventilasi dan jenis bahan

bakar, pendidikan ibu, tingkat jangkauan pelayanan kesehatan yang rendah.

Mekanisme Penularan

Pneumonia dapat ditularkan melalui percikan ludah, kontak langsung lewat mulut atau kontak tidak langsung melalui peralatan yang terkontaminasi discharge saluran pernafasan. Biasanya penularan organisme terjadi dari orang ke orang, namun penularan melalui kontak sesaat jarang terjadi.

Penanganan dan Pengobatan Penyakit Pneumonia

Penanganan dan pengobatan pada penderita Pneumonia tergantung dari tingkat keparahan gejala yang timbul dan type dari penyebab Pneumonia itu sendiri.

  1. Pneumonia yang disebabkan oleh bakteri akan diberikan pengobatan antibiotik. Pengobatan haruslah benar-benar komplite sampai benar-benar tidak lagi adanya gejala atau hasil pemeriksaan X-ray dan sputum tidak lagi menampakkan adanya bakteri Pneumonia, jika tidak maka suatu saat Pneumonia akan kembali diderita.
  2. Pneumonia yang disebabkan oleh virus akan diberikan pengobatan yang hampir sama dengan penderita flu, namun lebih ditekankan dengan istirahat yang cukup dan pemberian intake cairan yang cukup banyak serta gizi yang baik untuk membantu pemulihan daya tahan tubuh.
  3. Pneumonia yang disebabkan oleh jamur akan mendapatkan pengobatan dengan pemberian antijamur.

 

Disamping itu pemberian obat lain untuk membantu mengurangi nyeri, demam dan sakit kepala. Pemberian obat anti (penekan) batuk di anjurkan dengan dosis rendah hanya cukup membuat penderita bisa beristirahat tidur, Karena batuk juga akan membantu proses pembersihan secresi mucossa (riak/dahak) diparu-paru.

Control Disease

Penderita :

  • Penderita harus segera mendapat pengobatan untuk menghindari penularan penyakit dan mendapatkan kesembuhan.
  • Edukasi, dalam hal ini yaitu memberi pengetahuan kepada penderita tentang penyakit pneumonia agar dapat termotivasi untuk sembuh, selain itu menjelaskan tentang bagaimana cara batuk agar tidak menularkan ke orang lain, misalnya dengan cara menutup mulut dengan tissue pada waktu batuk.

Contact person:

  • Imunisasi pneumonia
  • Peningkatan imunitas dengan cara rutin berolahraga dan makan makanan yang mengandung gizi tinggi.
  • Melakukan proteksi atau perlindungan terhadap diri sendiri tentang bagaimana menanggulangi penyakit nya.

Lingkungan:

  • Membuat aerasi ruangan yaitu mengalirkan udara ke dalam ruangan untuk meningkatkan oksigen dalam ruangan agar ruangan tidak pengap dan pernapasan tidak terganggu.
  • Memiliki ventilasi yang memadai agar bisa berganti udara setiap harinya.
  • Pencahayaan yang baik seperti genting kaca agar sinar matahari dapat menyinari ruangan secara langsung. .

 

Referensi

http://www.infopenyakit.com/2007/12/penyakit-pneumonia.html

http://www.infeksi.com/articles.php?lng=in&pg=48

http://digilib.unimus.ac.id/download.php?id=6023

 

Tri Mulyani

E2A009088

fkm Undip

FOOD AND WATER BORNE DISEASE

 

Foodborne disease adalah suatu penyakit yang merupakan hasil dari pencernaan dan penyerapan makanan yang mengandung mikroba oleh tubuh manusia. Penyakit ini sangat erat kaitannya dengan kehidupan manusia. Dalam kehidupannya manusia membutuhkan makanan untuk hidup. Jika tidak memperhatikan kebersihan makanan dan lingkungan, makanan dapat merugikan bagi manusia. Makanan yang berasal baik dari hewan atau tumbuhan dapat berperan sebagai media pembawa mikroorganisma penyebab penyakit pada manusia.

Air merupakan kebutuhan dasar makhluk hidup. namun air yang disediakan untuk keperluan sehari-hari, termasuk untuk keperluan MCK, juga dapat memberikan dampak yang merugikan bagi manusia beserta lingkungannya. Tentunya saja air yang diberikan tidak memenuhi syarat kualitas sanitasi dan higiene yang dibutuhkan. Ketidakcukupan kualitas, Kuantitas, dan aksesibilitas, dapat membuka peluang munculnya penyakit bawaan air ini yang disebut water borne disease.Water borne diseases biasanya bersifat person-to-person (orang ke orang) melalui faecal-oral. Salah satu contoh penyakit food and water borne disease yaitu Typhoid.

Demam Typhoid

Definisi

Demam tifoid (tifus abdominalis, enteric fever) adalah penyakit infeksi akut yang biasanya terdapat pada saluran pencernaan dengan gejala demam yang lebih dari 7 hari, gangguan pada saluran pencernaan dengan atau tanpa gangguan kesadaran. Demam typhoid atau dalam bahasa kesehariannya dikenal dengan nama penyakit tifus/tifes merupakan suatu penyakit demam akut yang disebabkan oleh kuman Salmonella typhi. Selain oleh Salmonella typhi, demam typhoid juga bisa disebabkan oleh Salmonella paratyphi namun gejalanya jauh lebih ringan. Kuman ini umumnya terdapat dalam air atau makanan yang ditularkan oleh orang yang terinfeksi kuman tersebut sebelumnya. Penyakit ini umumnya disebarkan secara antar manusia, karena bakteri ini reservoir utamanya bukan pada hewan. Kontaminasi oleh faeces manusia merupakan penyebab utama penyebaran dan melalui air yang terkontaminasi.

Demam typhoid saat ini masih sangat sering kita jumpai dalam kehidupan sehari hari. Lebih dari 13 juta orang terinfeksi kuman ini di seluruh dunia dan 500.000 diantaranya meninggal dunia.

Gejala Demam Typhoid

Masa inkubasi penyakit ini antara satu sampai dua minggu dan lamanya penyakit dapat mencapai enam minggu. Beberapa gejala yang dialami pasien antara lain :

  • Sakit kepala yang luar biasa.
  • Penurunan nafsu makan.
  • Nyeri nyeri pada seluruh tubuh.
  • Demam.
  • Lemah.
  • Diare.

Penderita demam typhoid dapat mengalami demam sampai dengan 40 derajat Celsius.

Beberapa pasien dapat mengalami sesak nafas, nyeri pada perut dan ketidaknyamanan lainnya. Jika tidak ada komplikasi maka penyembuhan akan terjadi pada minggu ke 3 dan 4. Sekitar 10% pasien yang sudah dinyatakan sembuh akan mengalami kekambuhan setelah dua sampai tiga minggu kemudian. Penyebab dari kekambuhan ini belum dapat dipastikan namun hal ini terjadi umumnya pada pasien yang mendapat pengobatan antibiotika.

Epidemiologi

Distribusi dan penyebaran penyakit Typhoid

Demam tifoid dan paratifoid merupakan salah satu penyakit infeksi endemik di Asia, Afrika, Amerika Latin Karibia dan Oceania, termasuk Indonesia. Penyakit ini tergolong penyakit menular yang dapat menyerang banyak orang melalui makanan dan minuman yang terkontaminasi. Insiden demam tifoid di seluruh dunia menurut data pada tahun 2002 sekitar 16 juta per tahun, 600.000 di antaranya menyebabkan kematian. Di Indonesia prevalensi 91% kasus Ada dua sumber penularan S.typhi : pasien yang menderita demam tifoid dan yang lebih sering dari carrier yaitu orang yang telah sembuh dari demam tifoid namun masih mengeksresikan S. typhi dalam tinja selama lebih dari satu tahun.  demam tifoid terjadi pada umur 3-19 tahun, kejadian meningkat setelah umur 5 tahun.

Etiologi

Demam tifoid disebabkan oleh Salmonella typhi (S. typhi), basil gram negatif, berflagel, dan tidak berspora. S. typhi memiliki 3 macam antigen yaitu antigen O (somatik berupa kompleks polisakarida), antigen H (flagel), dan antigen Vi. Dalam serum penderita demam tifoid akan terbentuk antibodi terhadap ketiga macam antigen tersebut.

Kuman ini tumbuh dalam suasana aerob dan fakultatif anaerob. Kuman ini mati pada suhu 56ºC dan pada keadaan kering. Di dalam air dapat bertahan hidup selama 4 minggu dan hidup subur pada medium yang mengandung garam empedu.

Patogenesis

Infeksi S.typhi terjadi pada saluran pencernaan. Basil diserap di usus halus kemudian melalui pembuluh limfe masuk ke peredaran darah sampai di organ-organterutama hati dan limpa. Basil yang tidak dihancurkan berkembang biak dalam hati dan limpa sehingga organ-organ tersebut akan membesar disertai nyeri pada perabaan. Kemudian basil masuk kembali ke dalam darah (bakteremia) dan menyebar ke seluruh tubuh terutama ke dalam kelenjar limfoid usus halus, menimbulkan tukak pada mukosa diatas plaque peyeri. Tukak tersebut dapat mengakibatkan perdarahan dan perforasi usus. Gejala demam disebabkan oleh endotoksin yang dieksresikan oleh basil S.typhi sedangkan gejala pada saluran pencernaan disebabkan oleh kelainan pada usus.

Mekanisme penularan

Bagaimana sih seseorang bisa mengalami demam typhoid?

Kuman typhoid masuk ke dalam tubuh melalui makanan atau air yang kita konsumsi. Seorang penderita typhoid dapat mencemari air di sekitarnya melalui kotoran yang penuh dengan kuman typhoid. Air yang tercemar ini bila digunakan untuk mengolah makanan maka makanan pun akan ikut tercemar terutama makanan yang tidak dimasak dengan baik. Tidak semua penderita typhoid mengalami gejala yang kasat mata, banyak diantaranya yang walaupun terinfeksi tetapi tidak merasakan apa apa. Nah, mereka inilah yang berbahaya sebab mereka dapat menulari orang lain sementara karena tidak merasakan sakit, mereka enggan untuk ke dokter berobat. Orang orang seperti ini dikenal dengan nama carier.

Kuman typhoid berkembang biak dan bertambah banyak di dalam kandung empedu dan hati yang selanjutnya masuk ke dalam usus. Hebatnya, kuman ini mampu bertahan berminggu minggu di dalam air atau kubangan yang telah kering.

Bagaimana kuman typhoid dapat menyebabkan penyakit?

Setelah memakan makanan yang terkontaminasi, kuman typhoid selanjutnya masuk ke dalam usus halus lalu ke pembuluh darah. Di dalam pembuluh darah, kuman typhoid dibawa oleh sel darah putih menuju hati, limpa dan sumsum tulang. Kuman selanjutnya bertambah banyak pada organ organ ini lalu kembali ke pembuluh darah. Saat inilah penderita typhoid akan merasakan gejala demam. Berikutnya kuman akan memasuki kandung empedu lalu jaringan getah bening usus. Disini kuman akan berkembang biak semakin banyak. Lalu kuman juga akan menembus dinding usus dan bercampur dengan kotoran.

Cara penanggulangan / Control  Disease

Merupakan suatu kegiatan yang sifatnya komprehensif dalam rangka menghentikan penyakit yang sedang berlangsung dan mencegah suaya penyakit tidak terjadi. Oleh karena itu prinsip dari “Control Disease” adalah tindakan terhadap:

Penderita

  • penderita harus segera diberi pengobatan untuk menghindari penularan ke orang lain.
  • Penderita sebaiknya diberi edukasi/pendidikan tentang penyakit yang dialaminya, agar ia dapat mengontrol dirinya sendiri untuk berperilaku sehat dan dapat mencegah penularan.

Contak person

  • Personal Higiene → makan makanan yang bersih dan sehat, makan secara teratur
  • Demam typhoid diobati dengan antibiotika yang dapat membunuh kuman Salmonella
  • Vaksin typhoid sudah tersedia namun di Indonesia masih sangat jarang ditemukan.
  • Meningkatkan imunitas dengan olahraga secara teratur, istirahat cukup, gizi seimbang, dll.
  • Mengolah makanan secara higienis dan harus dimasak dengan baik.

Lingkungan

  • Menjaga kebersihan lingkungan sekitar
  • Membuang sampah pada tempatnya
  • Mengelola saluran pembuangan air dengan baik agar tidak mencemari air yang lain.

Kegiatan tersebut harus dilakukan secara bersama-sama, dengan tujuan segera memutus mata rantai penularan. Dan semua itu kembali lagi ke personal nya, butuh kesadaran dari penderita untuk melakukan control tersebut.

 

 

Referensi:

http://jurnalkedokteranindonesia.wordpress.com/2010/12/04/penyakit-bawaan-makanan-foodborne-diseases/

http://belibis-a17.com/2008/04/25/demam-tifoid-thypoid-fever/

http://www.scribd.com/doc/23591220/Demam-Typhoid

http://www.ziddu.com/download/9046045/Belibis_A17_Demam_tifoid.pdf.html

 

Tri Mulyani

E2A009088

FKM Undip

WABAH/ KEJADIAN LUAR BIASA (KLB)

Kejadian Luar Biasa (KLB) adalah suatu kejadian kesakitan/kematian dan atau meningkatnya suatu kejadian kesakitan/kematian yang bermakna secara epidemiologis pada suatu kelompok penduduk dalam kurun waktu tertentu.” (Peraturan Menteri Kesehatan No. 949/Menkes/SK/VIII/2004). Kejadian Luar Biasa (KLB) yaitu munculnya penyakit di luar kebiasaan (base line condition) yang terjadi dalam waktu relatif singkat serta memerlukan upaya penanggulangan secepat mungkin, karena dikhawatirkan akan meluas, baik dari segi jumlah kasus maupun wilayah yang terkena persebaran penyakit tersebut. Kejadian luar biasa pertama di Indonesia dilaporkan oleh David Beylon di Batavia (Jakarta) pada tahun 1779. Namun, demam berdarah dengue baru dikenal pada tahun 1968 dalam KLB di Jakarta dan Surabaya dengan angka kematian sangattinggi sekitar 41,3 persen.

Peristiwa bertambahnya penderita atau kematian yang disebabkan oleh suatu penyakit di wilayah tertentu, kadang-kadang dapat merupakan kejadian yang mengejutkan dan membuat panik masyarakat di wilayah itu. Secara umum kejadian ini kita sebut sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB), sedangkan yang dimaksud dengan penyakit adalah semua penyakit menular yang dapat menimbulkan KLB, penyakit yang disebabkan oleh keracunan makanan dan keracunan lainnya. Penderita atau tersangka penderita penyakit yang dapat menimbulkan KLB dapat diketahui jika dilakukan pengamatan yang merupakan semua kegiatan yang dilakukan secara teratur, teliti dan terus-menerus, meliputi pengumpulan, pengolahan, analisa/interpretasi, penyajian data dan pelaporan. Apabila hasil pengamatan menunjukkan adanya tersangka KLB, maka perlu dilakukan penyelidikan epidemiologis yaitu semua kegiatan yang dilakukan untuk mengenal sifat-sifat penyebab dan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi terjadinya dan penyebarluasan KLB tersebut di samping tindakan penanggulangan seperlunya (Depkes, 2000).

Hasil penyelidikan epidemiologis mengarahkan langkah-langkah yang harus dilakukan dalam upaya penanggulangan KLB. Upaya penanggulangan ini meliputi pencegahan penyebaran KLB, termasuk pengawasan usaha pencegahan tersebut dan pemberantasan penyakitnya. Upaya penanggulangan KLB yang direncanakan dengan cermat dan dilaksanakan oleh semua pihak yang terkait secara terkoordinasi dapat menghentikan atau membatasi penyebarluasan KLB sehingga tidak berkembang menjadi suatu wabah (Depkes, 2000).

Suatu penyakit atau keracunan dapat dikatakan KLB apabila memenuhi kriteria sebagai berikut :

  1. Timbulnya suatu penyakit/penyakit menular yang sebelumnya tidak ada/tidak dikenal.
  2. Peningkatan kejadian penyakit/kematian terus-menerus selama 3 kurun waktu berturut-turut menurut jenis penyakitnya (jam, hari, minggu, bulan, tahun).
  3. Peningkatan kejadian penyakit/kematian, dua kali atau lebih dibandingkan dengan periode sebelumnya (hari, minggu, bulan, tahun).
  4. Jumlah penderita baru dalam satu bulan menunjukkan kenaikan dua kali lipat atau lebih bila dibandingkan dengan angka rata-rata perbulan dalam tahun sebelumnya.
  5. Angka rata-rata per bulan selama satu tahun menunjukkan kenaikan dua kali lipat atau lebih dibandingkan dengan angka rata-rata per bulan dari tahun sebelumnya.
  6. Case Fatality Rate (CFR) dari suatu penyakit dalam suatu kurun waktu tertentu menunjukkan kenaikan 50% atau lebih dibanding dengan CFR dari periode sebelumnya.
  7. Propotional rate (PR) penderita baru dari suatu periode tertentu menunjukkan kenaikan dua kali atau lebih dibanding periode yang sama dan kurun waktu atau tahun sebelumnya.
  8. Beberapa penyakit khusus : kolera, DHF/DSS
  1. Setiap peningkatan kasus dari periode sebelumnya (pada daerah endemis).
  2. Terdapat satu atau lebih penderita baru dimana pada periode 4 minggu sebelumnya daerah tersebut dinyatakan bebas dari penyakit yang bersangkutan.
  3. Beberapa penyakit yang dialami 1 atau lebih penderita :
    1. Keracunan makanan
    2. Keracunan pestisida

Karakteristik Penyakit yang berpotensi KLB:

  1. Penyakit yang terindikasi mengalami peningkatan kasus secara cepat.
  2. Merupakan penyakit menular dan termasuk juga kejadian keracunan.
  3. Mempunyai masa inkubasi yang cepat.
  4. Terjadi di daerah dengan padat hunian.

Penyakit-Penyakit Berpotensi Wabah/KLB :

  1. Penyakit karantina/penyakit wabah penting: Kholera, Pes, Yellow Fever.
  2. Penyakit potensi wabah/KLB yang menjalar dalam waktu cepat/mempunyai mortalitas tinggi & penyakit yang masuk program eradikasi/eliminasi dan memerlukan tindakan segera : DHF,Campak,Rabies, Tetanus neonatorum, Diare, Pertusis, Poliomyelitis.
  3. Penyakit potensial wabah/KLB lainnya dan beberapa penyakit penting : Malaria, Frambosia, Influenza, Anthrax, Hepatitis, Typhus abdominalis,  Meningitis, Keracunan, Encephalitis, Tetanus.
  4. Penyakit-penyakit menular yang tidak berpotensi wabah dan atau KLB,  tetapi masuk program : Kecacingan, Kusta, Tuberkulosa, Syphilis,  Gonorrhoe, Filariasis, dll

 

Badan Litbangkes berkerja sama dengan Namru 2 telah mengembangkan suatu sistem surveilans dengan menggunakan teknologi informasi (computerize) yang disebut dengan Early Warning Outbreak Recognition System (EWORS). EWORS adalah suatu sistem jaringan informasi yang menggunakan internet yang bertujuan untuk menyampaikan berita adanya kejadian luar biasa pada suatu daerah di seluruh Indonesia ke pusat EWORS secara cepat (Badan Litbangkes, Depkes RI). Melalui sistem ini peningkatan dan penyebaran kasus dapat diketahui dengan cepat, sehingga tindakan penanggulangan penyakit dapat dilakukan sedini mungkin. Dalam masalah DBD kali ini EWORS telah berperan dalam hal menginformasikan data kasus DBD dari segi jumlah, gejala/karakteristik penyakit, tempat/lokasi, dan waktu kejadian dari seluruh rumah sakit DATI II di Indonesia (Sidemen A., 2003)

Pengertian Heard immunity

Heard immunity adalah pertahanan kelompok / pertahanan sekelompok masyarakat terhadap masuknya dan menyebarnya agen infeksi, karena sebagian besar anggota kelompok tersebut memiliki daya tahan terhadap infeksi yang berbeda –beda. Kekebalan kelompok diakibatkan oleh menurunnya peluang penularan bibit penyakit dari penderita yang terinfeksi kepada orang sehat yang rentan bila sebagian besar anggota kelompok tersebut memiliki ketahanan yang tunggi terhadap penyakit itu. Herd Immunity bias dikatakan jika bahwa antara masyarkat yang kebal dan tidak kebal terhadap suatu penyakit tidak mengelompok sendiri-sendiri sehingga penyebaran penyakit bias menurun dalam suatu kelompok tertentu.
Teori Herd immunity menyatakan bahwa, dalam penyakit menular yang ditularkan dari individu ke individu, rantai infeksi mungkin akan terganggu ketika sejumlah besar populasi kebal terhadap penyakit. Semakin besar proporsi individu yang kebal, semakin kecil kemungkinan bahwa individu rentan akan datang ke dalam kontak dengan individu menular.

Penanggulangan KLB :

Upaya penanggulangan ini meliputi pencegahan penyebaran KLB, termasuk pengawasan usaha pencegahan tersebut dan pemberantasan penyakitnya. Upaya penanggulangan KLB yang direncanakan dengan cermat dan dilaksanakan oleh semua pihak yang terkait secara terkoordinasi dapat menghentikan atau membatasi penyebarluasan KLB sehingga tidak berkembang menjadi suatu wabah (Depkes, 2000)

Prosedur Penanggulangan KLB/Wabah.

  1. Masa pra KLB

Informasi kemungkinan akan terjadinya KLB / wabah adalah dengan melaksanakan Sistem Kewaspadaan Dini secara cermat, selain itu melakukakukan langkah-langkh lainnya :

  1. Meningkatkan kewaspadaan dini di puskesmas baik SKD, tenaga dan logistic
  2. Membentuk dan melatih TIM Gerak Cepat puskesmas.
  3. Mengintensifkan penyuluhan kesehatan pada masyarakat
  4. Memperbaiki kerja laboratorium
  5. Meningkatkan kerjasama dengan instansi lain

Tim Gerak Cepat (TGC) :

Sekelompok tenaga kesehatan yang bertugas menyelesaikan pengamatan dan penanggulangan
wabah di lapangan sesuai dengan data penderita puskesmas atau data penyelidikan
epideomologis.

Tugas /kegiatan :

Pengamatan:

  • Pencarian penderita lain yang tidak datang berobat.
  • Pengambilan usap dubur terhadap orang yang dicurigai terutama anggota keluarga.
  • Pengambilan contoh air sumur, sungai, air pabrik dll yang diduga tercemari dan sebagai sumber penularan.
  • Pelacakan kasus untuk mencari asal usul penularan dan mengantisipasi penyebarannya.
  • Pencegahan dehidrasi dengan pemberian oralit bagi setiap penderita yang ditemukan di lapangan.
  • Penyuluhahn baik perorang maupun keluarga
  • Membuat laporan tentang kejadian wabah dan cara penanggulangan secara lengkap

 

Tri mulyani

E2A009088

fkm undip

PENYELIDIKAN EPIDEMIOLOGI

  1. MALARIA

Penyelidikan Epidemiologi

Sekitar 3,3 milyar orang – setengah dari populasi dunia – berada pada risiko malaria. Setiap tahun, ini menyebabkan sekitar 250 juta kasus malaria dan hampir satu juta kematian. Masyarakat yang tinggal di negara-negara miskin yang paling rentan.

Malaria adalah penyakit yang dapat ditularkan kepada orang-orang dari segala usia. Hal ini disebabkan oleh parasit dari spesies plasmodium yang menyebar dari orang ke orang melalui gigitan nyamuk yang terinfeksi.

 

Gambaran Kasus Menurut Variable Epidemiologi

  • Menurut ciri-ciri manusia

Mengumpulkan data tentang siapa saja yang diduga terkena campak. Kemudian menyelidiki apakah gejala-gejala tersebut benar-benar malaria. gejala yang terkait dengan malaria, yang paling menonjol adalah demam, yang sering disertai dengan menggigil, keringat, anoreksia, sakit kepala, muntah dan malaise. Gejala dari malaria termasuk demam, sakit kepala, dan muntah, dan biasanya muncul antara 10 dan 15 hari setelah gigitan nyamuk.

Malaria dapat terjadi ketika orang-orang dengan kekebalan rendah pindah ke area dengan transmisi malaria intens, misalnya untuk mencari pekerjaan, atau sebagai pengungsi.

  • Menurut Waktu

Mencari tau kapan wabah malaria itu sering terjadi. Biasanya penularan juga tergantung pada kondisi iklim yang dapat mempengaruhi kelimpahan dan kelangsungan hidup nyamuk, seperti curah hujan, pola suhu dan kelembaban. Di banyak tempat, transmisi bersifat musiman, dengan puncak selama dan sesudah musim hujan. epidemi malaria dapat terjadi jika iklim dan kondisi tiba-tiba mendukung transmisi di daerah-daerah dimana orang memiliki kekebalan sedikit atau tidak ada untuk malaria. Gejala muncul tujuh hari atau lebih (biasanya 10-15 hari) setelah gigitan nyamuk infektif.

  • Menurut Tempat

Malaria dapat terjadi dalam banyak situasi dan tempat, terutama di daerah pedesaan dan di pinggiran dari sistem pelayanan kesehatan di mana laboratorium dukungan diagnosis klinis tidak ada. Penduduk daerah endemik sering akrab dengan kombinasi gejala, dan sering mendiagnosa malaria diri berdasarkan pada gejala saja.

Tindak lanjut

Ada empat jenis malaria manusia:

* Plasmodium falciparum

* Plasmodium vivax

* Plasmodium malariae

* Plasmodium ovale.

Plasmodium falciparum dan Plasmodium vivax adalah yang paling umum. Plasmodium falciparum adalah yang paling mematikan. Transmisi Malaria ditularkan secara eksklusif melalui gigitan nyamuk Anopheles. Jika ditemukan jentik-jentik nyamuk Anopheles, maka segera dilakukan:

Penyuluhan 3M plus

Larvasidasi

Pengasapan/fogging focus

Jika tidak ditemukan jentik-jentik nyamuk, maka hanya dilakukan kegiatan penyuluhan 3 M plus.

Penanggulangan dan pencegahan

Intervensi kunci untuk mengendalikan malaria meliputi: pengobatan yang cepat dan efektif dengan terapi kombinasi berbasis artemisinin, penggunaan jaring insektisida oleh orang di resiko; dan indoor sisa penyemprotan dengan insektisida untuk pengendalian nyamuk vektor.

Diagnosis dini dan pengobatan yang tepat adalah dua elemen dasar dari pengendalian malaria. pengobatan dini dan efektif malaria dapat mempersingkat durasi infeksi dan mencegah komplikasi lebih lanjut termasuk sebagian besar kematian. Akses ke manajemen penyakit harus dilihat tidak hanya sebagai komponen pengendalian malaria tetapi hak dasar dari semua populasi beresiko. Selain itu gunakan kelambu dengan insektisida tahan lama, merupakan cara yang efektif dan murah, penyemprotan insektisida dalam ruangan. Upaya ini dapat didukung dengan metode pengendalian nyamuk lain (sebagai contoh, memusnahkan genangan air tempat nyamuk berkembang biak).

2. CAMPAK

Penyelidikan Epidemiologi

Campak (Rubeola) merupakan penyakit akut yang mudah sekali menular dan sering terjadi komplikasi yang serius. Tahap pertama yang dilakukan dalam penyelidikan epidemiologi yaitu survey daerah yang terkena wabah campak. Lalu, mengumpulkan data tentang siapa saja yang diduga terkena campak. Kemudian menyelidiki apakah gejala-gejala tersebut benar-benar campak. Gejala-gejala campak tersebut adalah Gejala bermula 10 – 12 hari selepas terdedah dengan pesakit, Gejala awal adalah seperti hidung berair, batuk, hidung tersumbat, mata merah, sakit otot , sensitif terhadap cahaya dan demam. Selepas 2 hingga 4 hari gejala tadi, ruam badan dan tompokan putih di dalam mulut mula timbul.Ruam bermula di kepala dan merebak ke bagian lain, berkembang ke bawah dan bersatu antara satu sama lain. Ia akan beransur hilang dalam masa 4 hari sebagaimana tempoh ia berlaku.

Hampir semua anak di bawah 5 tahun di negara berkembang akan terserang penyakit ini, sedangkan di negara maju biasanya menyerang anak usia remaja atau dewasa muda yang tidak terlindung oleh imunisasi. Penyakit ini disebabkan karena infeksi virus campak golongan Paramyxovirus.

Tindak lanjut

Campak dicurigai sewaktu seseorang merasa kurang sehat, mengalami batuk, hidung beringus atau mata sakit dan demam diikuti dengan ruam. Untuk menindak lanjuti hal tersebut,  perlu di adakan pencegahan seperti berikut:

  • imunisasi dengan dua dosis vaksin MMR. Vaksin ini memberikan perlindungan terhadap infeksi campak, di samping gondong dan rubela.
  • Vaksin MMR harus diberikan kepada anak-anak pada usia 12 bulan dan dosis kedua harus diberikan pada usia 4 tahun.
  • Siapapun yang lahir pada atau sebelum tahun 1966 atau belum menderita infeksi campak atau menerima vaksinasi MMR harus memastikan bahwa telah menerima dua dosis vaksin MMR dengan selang waktu sekurangkurangnya empat minggu.
  • Penderita campak harus tetap tinggal di rumah sampai tidak lagi dapat menularkan penyakit (yaitu sampai 4 hari setelah ruam timbul).

 

Pencegahan

  • Pencegahan Tingkat Awal (Priemordial Prevention)

Pencegahan tingkat awal berhubungan dengan keadaan penyakit yang masih dalam tahap prepatogenesis atau penyakit belum tampak yang dapat dilakukan dengan memantapkan status kesehatan balita dengan memberikan makanan bergizi sehingga dapat meningkatkan daya tahan tubuh.

  • Pencegahan Tingkat Pertama (Primary Prevention)

Pencegahan tingkat pertama ini merupakan upaya untuk mencegah seseorang terkena penyakit campak, yaitu :

  1. a. Memberi penyuluhan kepada masyarakat mengenai pentingnya pelaksanaan imunisasi   campak untuk semua bayi.
  2. b. Imunisasi dengan virus campak hidup yang dilemahkan, yang diberikan pada semua anak berumur 9 bulan sangat dianjurkan karena dapat melindungi sampai jangka waktu 4-5 tahun.
  • Pencegahan Tingkat Kedua (Secondary Prevention)

Pencegahan tingkat kedua ditujukan untuk mendeteksi penyakit sedini mungkin untuk mendapatkan pengobatan yang tepat. Dengan demikian pencegahan ini sekurang-kurangnya dapat menghambat atau memperlambat progrefisitas penyakit, mencegah komplikasi, dan membatasi kemungkinan kecatatan, yaitu :

  1. Menentukan diagnosis campak dengan benar baik melalui pemeriksaan fisik atau  darah.
  2. Mencegah perluasan infeksi. Anak yang menderita campak jangan masuk sekolah selama empat hari setelah timbulnya rash. Menempatkan anak pada ruang khusus atau mempertahankan isolasi di rumah sakit dengan melakukan pemisahan penderita pada stadium kataral yakni dari hari pertama hingga hari keempat setelah timbulnya rash yang dapat mengurangi keterpajanan pasien-pasien dengan risiko tinggi lainnya.
  3. Pengobatan simtomatik diberikan untuk mengurangi keluhan penderita yakni antipiretik untuk menurunkan panas dan juga obat batuk. Antibiotika hanya diberikan bila terjadi infeksi sekunder untuk mencegah komplikasi.
  4. Diet dengan gizi tinggi kalori dan tinggi protein bertujuan untuk meningkatkan daya tahan tubuh penderita sehingga dapat mengurangi terjadinya komplikasi campak yakni bronkhitis, otitis media, pneumonia, ensefalomielitis, abortus, dan miokarditis yang reversibel.
  • Pencegahan Tingkat Ketiga (Tertiary Prevention)

Pencegahan tingkat ketiga bertujuan untuk mencegah terjadinya komplikasi dan kematian. Adapun tindakan-tindakan yang dilakukan pada pencegahan tertier yaitu :

a. Penanganan akibat lanjutan dari komplikasi campak.

b. Pemberian vitamin A dosis tinggi karena cadangan vitamin A akan turun secara cepat terutama pada anak kurang gizi yang akan menurunkan imunitas mereka.

3. TUBERKULOSIS PARU

Tuberculosis merupakan penyakit infeksi bakteri menahun yang disebabkan oleh Mycobakterium tuberculosis yang ditandai dengan pembentukan granuloma pada jaringan yang terinfeksi. Tahap pertama, yaitu mensurvey daerah mana yang terkena infeksi Mycobacterium tuberculosis. Kemudian mendata siapa saja yang terkena bakteri tersebut. Dan menyelidiki apakah gejala tersebut benar-benar merupakan gejala penyakit TB paru. Gejala TB paru adalah:

1. Demam

Biasanya menyerupai demam influenza. Keadaan ini sangat dipengaruhi oleh daya tahan tubuh penderita dengan berat-ringannya infeksi kuman TBC yang masuk.

2. Batuk

Terjadi karena adanya infeksi pada bronkus. Sifat batuk dimulai dari batuk kering kemudian setelah timbul peradangan menjadi batuk produktif (menghasilkan sputum). Pada keadaan lanjut berupa batuk darah karena terdapat pembuluh darah yang pecah. Kebanyakan batuk darah pada ulkus dinding bronkus.

3. Sesak nafas.

Sesak nafas akan ditemukan pada penyakit yang sudah lanjut dimana infiltrasinya sudah setengah bagian paru.

4. Nyeri dada

Timbul bila infiltrasi radang sudah sampai ke pleura (menimbulkan pleuritis)

5. Malaise

Dapat berupa anoreksia, tidak ada nafsu makan, berat badan turun, sakit kepala, meriang, nyeri otot, keringat malam.

Kemudian mengadakan kuisioner tentang kebiasaan warga yang terkena gejala TB paru dan mencatat hasilnya, lalu mengadakan semacam penyuluhan tentang bagaimana mencegah agar TB baru tidak terjangkit. Jika kejadian tersebut menjangkiti banyak orang, berarti kejadian tersebut merupakan Kejadian Luar Biasa (KLB).

Tindak lanjut

Jika ditemukan bakteri Mycobacterium tuberculosis pada warga di daerah tersebut, maka perlu dilakukan hal-hal sebagai berikut:

  • Karantina orang yang terkena TB paru
  • Penggunaan masker bagi warga-warga yang belum terkena TB paru
  • Pemberian vaksin BCG bagi balita
  • Penyuluhan tentang bahaya TB paru
  • Melakukan Tes tuberculin apabila sudah ada gejala TB paru

Dalam penularan infeksi Mycobacterium tuberculosis hal-hal yang perlu diperhatikan

adalah :

1. Reservour, sumber dan penularan

Manusia adalah reservoar paling umum, sekret saluran pernafasan dari orang  dengan lesi aktif terbuka memindahkan infeksi langsung melalui droplet.

2. Masa inkubasi

Yaitu sejak masuknya sampai timbulnya lesi primer umumnya memerlukan waktu empat sampai enam minggu, interfal antara infeksi primer dengan reinfeksi bisa beberapa tahun.

3. Masa dapat menular

Selama yang bersangkutan mengeluarkan bacil Turbekel terutama yang dibatukkan atau dibersinkan.

4. Immunitas

Anak dibawah tiga tahun paling rentan, karena sejak lahir sampai satu bulan bayi diberi vaksinasi BCG yang meningkatkan tubuh terhadap TBC

 

Pencegahan

Tindakan pencegahan yang dapat dilakuakn oleh penderita, masyarakat dan petugas kesehatan antara lain adalah :

1. Status sosial ekonomi rendah yang merupakan faktor menjadi sakit, seperti kepadatan hunian, dengan meningkatkan pendidikan kesehatan.

2. Tersedia sarana-sarana kedokteran, pemeriksaan penderita, kontak atau suspect gambas, sering dilaporkan, pemeriksaan dan pengobatan dini bagi penderita, kontak,suspect, perawatan.

3. Pengobatan preventif, diartikan sebagai tindakan keperawatan terhadap penyakit inaktif dengan pemberian pengobatan INH sebagai pencegahan.

4. BCG, vaksinasi, diberikan pertama-tama kepada bayi dengan perlindungan bagi ibunya dan keluarhanya. Diulang 5 tahun kemudian pada 12 tahun ditingkat tersebut berupa tempat pencegahan.

5. Memberantas penyakti TBC pada pemerah air susu dan tukang potong sapi, dan pasteurisasi air susu sapi.

6. Tindakan mencegah bahaya penyakit paru kronis karean menghirup udara yang tercemar debu para pekerja tambang, pekerja semen dan sebagainya.

7. Pemeriksaan bakteriologis dahak pada orang dengan gejala tbc paru.

8. Pemeriksaan screening dengan tubercullin test pada kelompok beresiko tinggi, seperti para emigrant, orang-orang kontak dengan penderita, petugas dirumah sakit, petugas/guru disekolah, petugas foto rontgen.

9. Pemeriksaan foto rontgen pada orang-orang yang positif dari hasil pemeriksaan tuberculin test.

4. KEMATIAN IBU

Penyelidikan Epidemiologi

Angka Kematian Ibu (AKI) merupakan salah satu indikator untuk melihat derajat kesehatan perempuan. Langkah pertama yang dilakukan adalah mensurvey daerah tertentu dan mencari data mengenai kematian ibu saat melahirkan atau setelah melahirkan. Kemudian mencatat apa yang menyebabkan kematian ibu. Penyebab kematian ibu adalah perdarahan, eklampsia atau gangguan akibat tekanan darah tinggi saat kehamilan, partus lama, komplikasi aborsi,dan infeksi. Perdarahan, yang biasanya tidak bisa diperkirakan dan terjadi secara mendadak, bertanggungjawab atas 28 persen kematian ibu. Sebagian besar kasus perdarahan dalam masa nifas terjadi karena retensio plasenta dan atonia uteri.

Tindak Lanjut

Hal-hal yang harus di tindaklanjuti dalam penurunan AKI antara lain karena :

  1. Meningkatkan dan mensukseskan program KB yang memungkinkan ibu yang mempunyai resiko kelahiran dengan resiko kematian ibunya tidak jadi melahirkan karena ikut KB.
  2. Meningkatkan pelayanan kesehatan, terutama pelayanan kebidanan bertambah baik antara lain karena makin banyaknya bidan di desa.
  3. Menjalin kerjasama organisasi wanita juga telah menghasilkan partisipasi yang sangat tinggi dan menyelamatkan banyak sekali ibu yang melahirkan.
  4. Menjadikan Pelayanan klinik yang makin sempurna sehingga dapat menyelamatkan banyak sekali ibu dari kematiannya.

 

Pencegahan

Ada empat strategi utama bagi upaya penurunan kesakitan dan kematian ibu.

1. meningkatkan akses dan cakupan pelayanan kesehatan ibu dan bayi baru lahir yang berkualitas dancost effective.

2. Kedua, membangun kemitraan yang efektif melalui kerja sama lintas program, lintas sektor, dan mitra lainnya.

3. Ketiga, mendorong pemberdayaan wanita dan keluarga melalui peningkatan pengetahuan dan perilaku sehat.

4. Keempat, mendorong keterlibatan masyarakat dalam menjamin penyediaan dan pemanfaatan pelayanan ibu dan bayi baru lahir.

 

Angka kematian ibu bisa ditekan dengan safe motherhood, prevalensi pemakai alat kontrasepsi. Kontrasepsi modern memainkan peran penting untuk menurunk an kehamilan yang tidak diinginkan. Sebagai faktor penting lain penyebab kematian ibu sering terjadi karena kebersihan (hygiene) yang buruk pada saat persalinan atau karena penyakit menular akibat hubungan seks yang tidak diobati. Sepsis ini berkontribusi pada 10 persen kematian ibu (rata-rata dunia 15 persen). Deteksi dini terhadap infeksi selama kehamilan, persalinan yang bersih, dan perawatan semasa nifas yang benar dapat menanggulangi masalah ini. Partus lama, yang berkontribusi bagi sembilan persen kematian ibu (rata-rata dunia 8 persen), sering disebabkan oleh disproposi cephalopelvic, kelainan letak, dan gangguan kontraksi uterus.

 

 

5. LAHIR MATI

Penyelidikan Epidemiologi

Lahir Mati (Still Birth): Lahir mati ditandai oleh tidak ada satupun tanda-tanda kehidupan pada saat atau setelah kelahiran. Lahir mati membawa maksud kematian janin di antara minggu ke 20 kehamilan (bulan ke 5). Angka kematian perinatal di Indonesia tidak diketahui secara pasti karena belum ada survey yang menyeluruh. Angka kematian perinatal di rumah sakit pada umumnya berkisar antara 77,3% sampai 137,7% per 1000 kelahiran hidup.

Langkah pertama yang harus dilakukan dalam penyelidikan epidemiologi adalah mensurvey daerah yang diduga mengalami kematian balita terbanyak, kemudian menyelidiki apa penyebab kemattian balita tersebut. Berikut adalah penyebab lahir mati:

  • Kecacatan  kelahiran – biasanya berpunca daripada struktur atau kecacatan  kromosom.
  • Tali pusat terjatuh (prolaps), iaitu apabila tali pusat terkeluar dari faraj terlebih  dahulu sebelum bayi. Ini menghalang pengaliran darah dan oksigen.
  • Masalah uri (plasenta)

Pemisahan uri dari dinding rahim (uterus). Bayi tidak mungkin dapat  hidup sekiranya uri telah    terpisah dari tempat implantasinya.  Implantasi uri di bahagain pangkal rahim/bahagian bawah rahim atau serviks. Keadaan ini dipanggil plasenta previa. Sekiranya keadaan  ini  tidak dikesan di peringkat awal, ia boleh menggagalkan  peluang bayi untuk hidup dan pendarahan yang serius mungkin berlaku.

  • Keadaan kesihatan ibu mengandung sebelum dan juga semasa kehamilan  seperti  ibu mengidap diabetes (kencing manis) dan tekanan darah tinggi.  Keadaan ini merupakan penyebab penting kejadian lahir mati dan masalah ini perlu dipantau sepanjang tempoh kehamilan.
  • Masalah pada tali pusat

tali pusat terpintal menyebabkan terganggunya pengaliran oksigen dan  juga nutrien kepada bayi. tali pusat itu terbelit pada leher bayi, yang menjadikan bayi tercekik dan lemas apabila ia mula bergerak ke bahagian bawah.

 

Tindak lanjut

Hal yang harus dilakukan apabila menemui kasus tersebut adalah :

  • Mencatat laporan lahir mati, dilakukan dengan memenuhi syarat:
    • Surat Pengantar RT dan Lurah;
    • Keterangan lahir mati dari dokter/bidan/penolong kelahiran.
  • Melakukan penyuluhan kehamilan bagi ibu hamil

Penyuluhan ini berisi:

Pelarangan ibu hamil untuk mengkonsumsi alcohol, narkoba, ataupun merokok

Konsumsi gizi seimbang

  • Pemberian pelayanan kesehatan yang memadai bagi ibu hamil dan ibu melahirkan.

Pencegahan

  • usaha untuk melahirkan bayi itu lebih awal mungkin dapat mencegah kejadian lahir mati.
  • pembedahan kecemasan Caesarean mungkin dapat menyelamatkan nyawa.
  • Jaga kesehatan diri  anda dengan baik  sebelum mengandung.
  • dapatkan penjagaan ibu mengandung seawal mungkin untuk memastikan keadaan bayi anda sehat.
  • Pelayanan kesehatan yang memadai bagi ibu hamil
  • Pemberian Bahan Makanan Tambahan bagi ibu hamil

 

Referensi

http://www.who.int/topics/malaria/en/

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/20325/4/Chapter%20II.pdf

http://www.stp.dkp.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=152:mengenal-campak&catid=73:kesehatan&Itemid=112

http://www.mhcs.health.nsw.gov.au/publication_pdfs/8400/DOH-8400-IND.pdf

http://ictjogja.net/kesehatan/A1_20.htm

http://www.scribd.com/doc/20358065/TUBERKULOSIS-PARU

http://www.litbang.depkes.go.id/~djunaedi/documentation/350307pdf/rochjati.pdf

http://www.detikhealth.com/read/2009/12/04/170337/1254284/764/metode-kangguru-mengurangi-angka-kematian-bayi

 

 

oleh:

Tri Mulyani (E2A009088)

mahasiswa fkm Undip

LAHIR MATI

LAHIR MATI

Pengertian

Kelahiran adalah ekspulsi atau ekstraksi lengkap seorang janin dari ibu tanpa memperhatikan apakah tali pusatnya telah terpotong atau plasentanya masih berhubungan. Berat badan lahir adalah sama atau lebih 500 gram, panjang badan lahir adalah sama atau lebih 25 cm, dan usia kehamilan sama atau lebih 20 minggu.

Lahir Mati (Still Birth): Lahir mati ditandai oleh tidak ada satupun tanda-tanda kehidupan pada saat atau setelah kelahiran. Lahir mati membawa maksud kematian janin di antara minggu ke 20 kehamilan (bulan ke 5). Angka kematian perinatal di Indonesia tidak diketahui secara pasti karena belum ada survey yang menyeluruh. Angka kematian perinatal di rumah sakit pada umumnya berkisar antara 77,3% sampai 137,7% per 1000 kelahiran hidup.

 

Penyebab

Kecacatan kelahiran – biasanya berpunca daripada struktur atau kecacatan kromosom.

Tali pusat terjatuh (prolaps), iaitu apabila tali pusat terkeluar dari faraj terlebih dahulu sebelum bayi. Ini menghalang pengaliran darah dan oksigen.

Masalah uri (plasenta)

o Pemisahan uri dari dinding rahim (uterus). Bayi tidak mungkin dapat hidup sekiranya uri telah terpisah dari tempat implantasinya.

o Implantasi uri di bahagain pangkal rahim/bahagian bawah rahim atau serviks. Keadaan ini dipanggil plasenta previa. Sekiranya keadaan ini tidak dikesan di peringkat awal, ia boleh menggagalkan peluang bayi untuk hidup dan pendarahan yang serius mungkin berlaku.

Keadaan kesihatan ibu mengandung sebelum dan juga semasa kehamilan seperti ibu mengidap diabetes (kencing manis) dan tekanan darah tinggi. Keadaan ini merupakan penyebab penting kejadian lahir mati dan masalah ini perlu dipantau sepanjang tempoh kehamilan.

Masalah pada tali pusat

o tali pusat terpintal menyebabkan terganggunya pengaliran oksigen dan juga nutrien kepada bayi.

o tali pusat itu terbelit pada leher bayi, yang menjadikan bayi tercekik dan lemas apabila ia mula bergerak ke bahagian bawah .

Tiada punca yang dapat dikenalpasti (merupakan separuh dari kes lahir mati) tetapi kemungkinan besar disebabkan oleh jangkitan.

 

Pencatatan Lahir Mati

  1. Pencatatan pelaporan lahir mati, dilakukan dengan memenuhi syarat:
    1. Surat Pengantar RT dan Lurah;
    2. Keterangan lahir mati dari dokter/bidan/penolong kelahiran.
  2. Berdasarkan pencatatan pelaporan lahir mati sebagaimana dimaksud pada point (1) Lurah menerbitkan dan menandatangani Surat Keterangan Lahir Mati atas nama Kepala Instansi Pelaksana.
  3. Lurah berkewajiban mengirim Surat Keterangan Lahir Mati kepada Petugas perekaman data kependudukan di kecamatan.
  4. Pencatatan pelaporan lahir mati Orang Asing dilakukan oleh Instansi Pelaksana.

Sasaran kesehatan anak tahun 2010 diantaranya adalah angka kematian bayi turun dari 45,7 per seribu kelahiran, menjadi 36 per seribu kelahiran (SKN), BBLR (Bayi Berat Lahir Rendah atau kurang 2500 gram) menurun setinggi-tingginya 7% (SKN), di mana secara nasional th 1995-1999 diperkirakan BBLR 8% (Save The Children 2001) akan tetapi kalau dilihat dari tahun ke tahun, angka kematian Neonatus penurunannya sangat lambat, dan menempati 47% dari angka kematian bayi, bahkan pada 2003 AKN 20 per seribu kelahiran. Dari angka tersebut, 79,4% kematian pada bayi baru lahir berumur kurang dari tujuh hari. Bila dikaji lebih mendalam, ternyata dari kematian tersebut, 87% dapat dicegah apabila deteksi dini bayi resiko cepat diketahui, dan dapat segera dirujuk agar mendapat pertolongan yang akurat, dan cepat. Diperkirakan tiap jam terdapat 12 neonatus meninggal. Dari sumber SKRT 2001, ternyata dari bayi yang mendapat masalah, yang mencari pertolongan pada tenaga kesehatan hanyalah 36%. Oleh karena itu, tenaga kesehatan di lini terdepan baik di pelayanan perifer ataupun di pusat, sangat diharapkan mempunyai ketrampilan baik deteksi dini bayi resiko ataupun penanganan kegawatan, dan menentukan waktu yang tepat kapan bayi akan dirujuk, dan persiapan apa yang harus dilakukan.

Faktor – faktor risiko

Berikut merupakan faktor yang dapat meningkatkan risiko lahir mati:

  • Merokok
  • Pengambilan alkohol yang berlebihan
  • Penyalahgunaan dadah seperti heroin dan kokain
  • Obesiti/kegemukan
  • Pernah mengalami kejadian lahir mati
  • Wanita yang mengalami beberapa masalah kesehatan seperti diabetes, (terutamanya yang tidak terkawal) atau tekanan darah tinggi yang kronik (tekanan darah tinggi dan praeklampsia).
  • Wanita yang telah berusia (pertengahan 30an dan lebih) adalah lebih mudah untuk mengalami masalah kesihatan yang lain dan juga masalah pada uri.
  • Mengandung ketika remaja – lebih cenderung untuk mendapat masalah uri dan juga tekanan darah tinggi
  • Terjangkit bakteria dan virus di kalangan ibu hamil.

 

Insidens

Kadar kejadian lahir mati ialah 1 bagi setiap 200 kehamilan.

Tanda-tanda dan gejala

Biasanya tidak ada gejala atau simptom yang khusus atau pun sebarang amaran terhadap kejadian lahir mati. Walau bagaimanapun, sekiranya tanda-tanda atau gejala-gejala berikut berlaku, segeralah berjumpa doktor ataupun bidan yang terlatih:

Pendarahan dari faraj – mungkin menjadi petanda kepada satu masalah yang lebih serius.

Kurang atau tiada pergerakan janin

Perubahan pada aktiviti atau pergerakan biasa bayi.

Sakit pinggang (bagian pelvis), belakang dan juga bagian bawah abdomen terasa menyucuk-nyucuk

Tidak lagi terasa seperti sedang hamil dan anda dapat merasakan beberapa perubahan fisikal seperti payudara menjadi semakin kecil.

Tanda-tanda

Kematian janin boleh dijangkakan apabila si ibu tidak lagi terasa pergerakan bayi dalam kandungannya dan doktor juga sudah tidak lagi mendengar denyutan jantung janin.

Jika doktor mengesyaki lahir mati berlaku ketika bersalin, pemantauan dalam ke atas janin akan dijalankan

Ultrasound perlu digunakan bila perlu untuk mengesahkan diagnosis

Autopsi ialah satu langkah penting untuk mengesan sebab kematian janin.

Ujian darah dilakukan untuk mengesan diabetes dan juga lain-lain jangkitan

 

Tindakan

Tindakan yang harus dilakukan saat janin dalam kandungan disahkan mati adalah sebagai berikut:

  • Tunggu sehingga proses kelahiran berlaku secara normal; biasanya dalam masa 1 ke 2 minggu selepas kematian janin
  • Mencetus kelahiran – kebanyakan bayi yang lahir mati boleh dilahirkan secara normal selepas kelahiran diaruhkan, melainkan ada sebab-sebab tertentu yang mengharuskan pembedahan Caesarean dilakukan
  • Menjalankan pembedahan Caesarean

 

Masa setelah kelahiran

Selepas lahir mati, sama seperti kelahiran biasa, anda mungkin akan mengalami pembengkakan payudara, ketidakselesaan akibat pembedahan episiotomi (bagian perineum dan faraj digunting untuk memudahkan proses kelahiran), tekanan perasaan /stres selepas bersalin dan juga masalah-masalah yang dialami selepas kelahiran. Gabungan berbagai masalah fisikal dan juga emosi ini mungkin dirasakan terlalu berat untuk ditanggung oleh ibu. Maka dari itu, dukungan sosial dari keluarga dan rekan-rekan adalah sangat penting.

Rasa bersalah ialah satu reaksi yang normal bagi mereka yang mengalami kejadian lahir mati ini. Sematkan dalam fikiran anda, bahwa lahir mati jarang sekali berasal dari perlakuan anda. Hal ini merupakan satu perkara yang normal untuk merasa kesal, marah dan juga keliru dengan apa yang telah berlaku.

Bertemulah dengan konsulter atau menyertai kumpulan dukungan,mungkin mereka dapat membantu mengurangkan tekanan yang dialami.

Bawa berbincang dengan jururawat atau doktor anda untuk mengatasi kekusutan yang dialami sebelum anda keluar dari rumah sakit.

 

Pencegahan

  • Lazimnya, lahir mati berlaku tanpa sebarang amaran, tetapi kadang-kala ia boleh dijangka dan dicegah.
  • Penilaian ke atas janin dijalankan pada ibu-ibu yang berisiko tinggi terhadap masalah lahir mati – seperti ibu-ibu yang mempunyai masalah kesehatan (ada yang diabetes dan tekanan darah tinggi) terutama pada minggu terakhir kehamilan. Sekiranya semasa penilaian janin tersebut terdapatnya penemuan yang luar biasa, maka usaha untuk melahirkan bayi itu lebih awal mungkin dapat mencegah kejadian lahir mati.
  • Bagi setengah kesehatan terpecah uri atau abrubsi plasenta (placenta abrubtion), pembedahan kecemasan Caesarean mungkin dapat menyelamatkan nyawa.
  • Carta pergerakan janin digunakan oleh para doktor untuk menjejak pergerakan janin dilakukan beberapa kali dalam sehari, terutamanya selepas minggu ke 26 kehamilan. Sekiranya bayi itu kurang menendang atau bergerak dari biasa, penilaian lanjutan ke atas janin perlu dijalankan. Bagi sesetengah kes, sekiranya doktor dapati ada keabnormalan yang berlaku, maka aruhan kelahiran dengan menjalankan pembedahan Ceasarean mungkin dapat menyelamatkan keadaan.
  • Jaga kesehatan diri anda dengan baik sebelum mengandung. Setelah mengandung, dapatkan penjagaan ibu mengandung seawal mungkin untuk memastikan keadaan bayi anda sihat. Doktor akan menjalankan ujian saringan bagi mengesan sebarang jangkitan. Di samping itu, beliau akan mengkaji rekod kesehatan dan memastikan sebarang keadaan yang serius atau kronik telah dirawat dengan sewajarnya.

 

 

Referensi

  1. http://www.infosihat.gov.my/penyakit/penyakitL/LahirMati.pdf
  2. http://eprints.undip.ac.id/5113/1/2095.pdf
  3. http://www.litbang.depkes.go.id/~djunaedi/documentation/350307pdf/rochjati.pdf
  4. http://www.detikhealth.com/read/2009/12/04/170337/1254284/764/metode-kangguru-mengurangi-angka-kematian-bayi
  5. http://www.anak-ibu.com/panduan/pemeriksaan-rutin-ibu-hamil-untuk-deteksi-dini-bila-ada-kelainan

 

 

Oleh:

Tri Mulyani (E2A009088)

Mahasiswa fkm Undip

KEMATIAN IBU

KEMATIAN IBU

Pengertian

Angka Kematian Ibu (AKI) merupakan salah satu indikator untuk melihat derajat kesehatan perempuan. Angka kematian ibu juga merupakan salah satu target yang telah ditentukan dalam tujuan pembangunan millenium yaitu tujuan ke 5 yaitu meningkatkan kesehatan ibu dimana target yang akan dicapai sampai tahun 2015adalah mengurangi sampai ¾ resiko jumlah kematian ibu. AKI di Indonesia masih relative lebih tinggi jika dibandingkan dengan Negara negara anggota ASEAN.

 

Penyebab

Penyebab kematian ibu adalah perdarahan, eklampsia atau gangguan akibat tekanan darah tinggi saat kehamilan, partus lama, komplikasi aborsi,dan infeksi. Perdarahan, yang biasanya tidak bisa diperkirakan dan terjadi secara mendadak, bertanggungjawab atas 28 persen kematian ibu. Sebagianbesar kasus perdarahan dalam masa nifas terjadi karena retensio plasenta dan atonia uteri. Walaupun seorang perempuan bertahan hidup setelah mengalami pendarahan pasca persalinan, namun ia akan menderita akibat kekurangan darah yang berat (anemia berat) dan akan mengalami masalah kesehatan yang berkepanjangan. Hal ini mengindikasikan kurang baiknya manajemen tahap ketiga proses kelahiran dan pelayanan emergensi obstetrik dan perawatan neonatal yang tepat waktu.

Selain 4 faktor utama tadi ada penyebab tidak langsung penyebab kematian ibu yaitu Risiko kematian ibu dapat diperparah oleh adanya anemia dan penyakit menular seperti malaria, tuberkulosis (TB), hepatitis, dan HIV/AIDS. Pada 1995, misalnya, prevalensi anemia pada ibu hamil masih sangat tinggi, yaitu 51 persen, dan pada ibu nifas 45 persen.10 Anemia pada ibu hamil mempuyai dampak kesehatan terhadap ibu dan anak dalam kandungan, meningkatkan risiko keguguran, kelahiran prematur, bayi dengan berat lahir rendah, serta sering menyebabkan kematian ibu dan bayi baru lahir. Faktor lain yang berkontribusi adalah kekurangan energi kronik (KEK). Pada 2002, 17,6 persen wanita usia subur (WUS) men derita KEK.11 Tingkat sosial ekonomi, tingkat pendidikan, faktor budaya, dan akses terhadap sarana kesehatan dan transportasi juga berkontribusi secara tidak langsung terhadap kematian dan kesakitan ibu.

Situasi ini diidentifikasi sebagai “3 T” (terlambat) Yang pertama adalah terlambat deteksi bahaya dini selama kehamilan, persalinan, dan nifas, serta dalam mengambil keputusan untuk mendapatkan pelayanan kesehatan ibu dan neonatal. Kedua, terlambat merujuk ke fasilitas kesehatan karena kondisi geografis dan sulitnya transportasi. Ketiga, terlambat mendapat pelayanan kesehatan yang memadai di tempat rujukan.

 

Pencegahan

Strategi

Ada empat strategi utama bagi upaya penurunan kesakitan dan kematian ibu. Pertama,meningkatkan akses dan cakupan pelayanan kesehatan ibu dan bayi baru lahir yang berkualitas dancost effective. Kedua, membangun kemitraan yang efektif melalui kerja sama lintas program, lintas sektor, dan mitra lainnya. Ketiga, mendorong pemberdayaan wanita dan keluarga melalui peningkatan pengetahuan dan perilaku sehat. Keempat, mendorong keterlibatan masyarakat dalam menjamin penyediaan dan pemanfaatan pelayanan ibu dan bayi baru lahir.

Angka kematian ibu bisa ditekan dengan safe motherhood, prevalensi pemakai alat kontrasepsi. Kontrasepsi modern memainkan peran penting untuk menurunk an kehamilan yang tidak diinginkan. SDKI 2002–2003 menunjukkan bahwa kebutuhan yang tak terpenuhi (unmet need) dalam pemakaian kontrasepsi masih tinggi, yaitu sembilan persen dan tidak mengalami banyak perubahan sejak 1997. Angka pemakaian kontrasepsi (Contraceptive Prevalence Rate) di Indonesia naik dari 50,5 persen pada 1992 menjadi 54,2 persen pada .

Untuk indikator yang sama, SDKI 2002–2003 menunjukkan angka 60.3 persen. Sepsis sebagai faktor penting lain penyebab kematian ibu sering terjadi karena kebersihan (hygiene) yang buruk pada saat persalinan atau karena penyakit menular akibat hubungan seks yang tidak diobati. Sepsis ini berkontribusi pada 10 persen kematian ibu (rata-rata dunia 15 persen). Deteksi dini terhadap infeksi selama kehamilan, persalinan yang bersih, dan perawatan semasa nifas yang benar dapat menanggulangi masalah ini. Partus lama, yang berkontribusi bagi sembilan persen kematian ibu (rata-rata dunia 8 persen), sering disebabkan oleh disproposi cephalopelvic, kelainan letak, dan gangguan kontraksi uterus.

Menurunkan Angka Kematian Ibu

Indonesia dewasa ini menghadapi era globalisasi yang sangat dahsyat. Masyarakat menjadi makin urban dan modern. Kalau tigapuluh tahun yang lalu masyarakat urban baru mencapai sekitar 20 persen dari seluruh penduduk Indonesia, dewasa ini sudah mendekati 50 persen. Namun, Indonesia masih sangat terkenal dengan sebutan negara dengan tingkat kematian ibu hamil dan melahirkan paling tinggi di dunia. Salah satu sebabnya adalah karena masyarakat masih miskin dan tingkat pendidikannya rendah. Tingkah laku masyarakat umumnya dicerminkan oleh keadaan sumber daya manusia yang rendah mutunya itu. Untuk beberapa lama telah dikembangkan upaya besar untuk menurunkan angka kematian ibu hamil dan melahirkan itu. Sebab-sebab penurunan AKI itu banyak sekali. Antara lain karena :

  1. Keberhasilan program KB yang memungkinkan ibu yang mempunyai resiko

kelahiran dengan resiko kematian ibunya tidak jadi melahirkan karena ikut KB.

  1. Sebab lain adalah karena pelayanan kesehatan, terutama pelayanan kebidanan bertambah baik antara lain karena makin banyaknya bidan di desa.

  2. Kerjasama organisasi wanita juga telah menghasilkan partisipasi yang sangat tinggi dan menyelamatkan banyak sekali ibu yang melahirkan.

  3. Pelayanan klinik yang makin sempurna telah menyelamatkan banyak sekali ibu dari kematiannya.

Pendekatan Sasaran yang Tepat

Untuk mencapai sukses yang kita kehendaki, seluruh upaya KIE dan pelayanan untuk mencegah kematian ibu hamil karena mengandung dan melahirkan, harus disepakati suatu pendekatan dengan sasaran yang tepat. Untuk kesepakatan itu harus dipergunakan peta sasaran yang sama agar semua jajaran tidak berbeda pendapat tentang masalah ini. Peta yang dianjurkan itu adalah peta yang dibuat dan diperbaharui setiap tahun oleh BKKBN. Sasaran yang dipilih adalah Ibu dan pasangan usia subur dimana ibu menjadi titik sentralnya. Sasaran pokok yang harus diambil dari peta sasaran itu adalah ibu-ibu yang tinggal didaerah sebagai berikut :

 

  1. Daerah padat penduduk dengan tingkat kelahiran yang tinggi

  2. Daerah miskin padat penduduk

  3. Daerah padat pasangan usia subur muda

  4. Daerah dengan tempat dan fasilitas pelayanan rendah

  5. Daerah padat dengan sdm dalam bidang medis yang rendah

  6. Daerah padat dengan komitmen yang rendah

 

 

Oleh:

Tri Mulyani (E2A009088)

Mahasiswa fkm Undip

 

TUBERKULOSIS PARU

 

A. Definisi

Tuberculosis merupakan penyakit infeksi bakteri menahun yang disebabkan oleh Mycobakterium tuberculosis yang ditandai dengan pembentukan granuloma pada jaringan yang terinfeksi. Mycobacterium tuberculosis merupakan kuman aerob yang dapat hidup terutama di paru / berbagai organ tubuh lainnya yang bertekanan parsial tinggi. Penyakit tuberculosis ini biasanya menyerang paru tetapi dapat menyebar ke hampir seluruh bagian tubuh termasuk meninges, ginjal, tulang, nodus limfe. Infeksi awal biasanya terjadi 2-10 minggu setelah pemajanan. Individu kemudian dapat mengalami penyakit aktif karena gangguan atau ketidakefektifan respon imun.

B. Etiologi

TB paru disebabkan oleh Mycobakterium tuberculosis yang merupakan batang aerobic tahan asam yang tumbuh lambat dan sensitive terhadap panas dan sinar UV. Bakteri yang jarang sebagai penyebab, tetapi pernah terjadi adalah M. Bovis dan M. Avium.

C. Tanda Dan Gejala

1. Tanda

a. Penurunan berat badan

b. Anoreksia

c. Dispneu

d. Sputum purulen/hijau, mukoid/kuning.

2. Gejala

a. Demam

Biasanya menyerupai demam influenza. Keadaan ini sangat dipengaruhi oleh daya tahan tubuh penderita dengan berat-ringannya infeksi kuman TBC yang masuk.

b. Batuk

Terjadi karena adanya infeksi pada bronkus. Sifat batuk dimulai dari batuk kering kemudian setelah timbul peradangan menjadi batuk produktif (menghasilkan sputum). Pada keadaan lanjut berupa batuk darah karena terdapat pembuluh darah yang pecah. Kebanyakan batuk darah pada ulkus dinding bronkus.

c.Sesak nafas.

Sesak nafas akan ditemukan pada penyakit yang sudah lanjut dimana infiltrasinya sudah setengah bagian paru.

d. Nyeri dada

Timbul bila infiltrasi radang sudah sampai ke pleura (menimbulkan pleuritis)

e.Malaise

Dapat berupa anoreksia, tidak ada nafsu makan, berat badan turun, sakit kepala, meriang, nyeri otot, keringat malam.

 

D. Patofisiologi

Pada tuberculosis, basil tuberculosis menyebabkan suatu reaksi jaringan yang aneh di dalam paru-paru meliputi : penyerbuan daerah terinfeksi oleh makrofag, pembentukan dinding di sekitar lesi oleh jaringan fibrosa untuk membentuk apa yang disebut dengan tuberkel. Banyaknya area fibrosis menyebabkan meningkatnya usaha otot pernafasan untuk ventilasi paru dan oleh karena itu menurunkan kapasitas vital, berkurangnya luas total permukaan membrane respirasi yang menyebabkan penurunan kapasitas difusi paru secara progresif, dan rasio ventilasi-perfusi yang abnormal di dalam paru-paru dapat mengurangi oksigenasi darah.

 

E. Pemeriksaan Penunjang

Pembacaan hasil tuberkulin dilakukan setelah 48 – 72 jam; dengan hasil positif bila terdapat indurasi diameter lebih dari 10 mm, meragukan bila 5-9 mm. Uji tuberkulin bisa diulang setelah 1-2 minggu. Pada anak yang telah mendapt BCG, diameter indurasi 15 mm ke atas baru dinyatakan positif, sedangkan pada anak kontrak erat dengan penderita TBC aktif, diameter indurasi ≥ 5 mm harus dinilai positif. Alergi disebabkan oleh keadaan infeksi berat, pemberian immunosupreson, penyakit keganasan (leukemia), dapat pula oleh gizi buruk, morbili, varicella dan penyakit infeksi lain.

Gambaran radiologis yang dicurigai TB adalah pembesaran kelenjar nilus, paratrakeal, dan mediastinum, atelektasis, konsolidasi, efusipieura, kavitas dan gambaran milier. Bakteriologis, bahan biakan kuman TB diambil dari bilasan lambung, namun memerlukan waktu cukup lama. Serodiagnosis, beberapa diantaranya dengan cara ELISA

(enzyime linked immunoabserben assay) untuk mendeteksi antibody atau uji peroxidase – anti – peroxidase (PAP) untuk menentukan Ig G spesifik. Teknik bromolekuler, merupakan pemeriksaan sensitif dengan mendeteksi DNA spesifik yang dilakukan dengan metode PCR (Polymerase Chain Reaction). Uji serodiagnosis maupun biomolekular belum dapat membedakan TB aktif atau tidak.

Tes tuberkulin positif, mempunyai arti :

1. Pernah mendapat infeksi basil tuberkulosis yang tidak berkembang menjadi penyakit.

2. Menderita tuberkulosis yang masih aktif

3. Menderita TBC yang sudah sembuh

4. Pernah mendapatkan vaksinasi BCG

5. Adanya reaksi silang (“cross reaction”) karena infeksi mikobakterium atipik.

 

F. Epidemiologi Dan Penularan TBC

Dalam penularan infeksi Mycobacterium tuberculosis hal-hal yang perlu diperhatikan

adalah :

1. Reservour, sumber dan penularan

Manusia adalah reservoar paling umum, sekret saluran pernafasan dari orang

dengan lesi aktif terbuka memindahkan infeksi langsung melalui droplet.

2. Masa inkubasi

Yaitu sejak masuknya sampai timbulnya lesi primer umumnya memerlukan waktu empat sampai enam minggu, interfal antara infeksi primer dengan reinfeksi bisa beberapa tahun.

3. Masa dapat menular

Selama yang bersangkutan mengeluarkan bacil Turbekel terutama yang

dibatukkan atau dibersinkan.

4. Immunitas

Anak dibawah tiga tahun paling rentan, karena sejak lahir sampai satu bulan bayi

diberi vaksinasi BCG yang meningkatkan tubuh terhadap TBC

 

G. Stadium TBC

1. Kelas 0

Tidak ada jangkitan tuberkulosis, tidak terinfeksi (tidak ada riwayat terpapar, reaksi terhadap tes kulit tuberkulin tidak bermakna).

2. Kelas 1

Terpapar tuberkulosis, tidak ada bukti terinfeksi (riwayat pemaparan, reaksi tes tuberkulosis tidak bermakna)

3. Kelas 2

Ada infeksi tuberkulosis, tidak timbul penyakit (reaksi tes kulit tuberkulin bermakna, pemeriksa bakteri negatif, tidak bukti klinik maupun radiografik).

4. Kelas 3

Tuberkuosis saat ini sedang sakit (Mycobacterium tuberkulosis ada dalam biakan, selain itu reaksi kulit tuberkulin bermakna dan atau bukti radiografik tentang adanya penyakit). Lokasi penyakit : paru, pleura, limfatik, tulang dan/atau sendi, kemih kelamin, diseminata (milier), menigeal, peritoneal dan lain-lain.

 

H. Penanganan

a. Promotif

1. Penyuluhan kepada masyarakat apa itu TBC

2. Pemberitahuan baik melalui spanduk/iklan tentang bahaya TBC, cara penularan, cara pencegahan, faktor resiko

3. Mensosialisasiklan BCG di masyarakat.

b. Preventif

1. Vaksinasi BCG

2. Menggunakan isoniazid (INH)

3. Membersihkan lingkungan dari tempat yang kotor dan lembab.

4. Bila ada gejala-gejala TBC segera ke Puskesmas/RS, agar dapat diketahui secara dini

 

Referensi

http://www.rajawana.com/artikel/kesehatan/264-tuberculosis-paru-tb-paru.html

http://ikm-uii.net46.net/download/_laporan_pendek/short%20report_TB_2009.pdf

http://ictjogja.net/kesehatan/A1_20.htm

http://www.scribd.com/doc/20358065/TUBERKULOSIS-PARU

 

 

oleh :

Tri mulyani (E2A009088)

Mahasiswa fkm Undip